Loading .. Please wait

DI IISAR 2026, KETUA KNKT DORONG PENGUATAN SINERGI SAR MELALUI PEMBELAJARAN DARI QZ8501 DAN SJ182

Image

TANGERANG – Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menegaskan bahwa pengalaman penanganan kecelakaan pesawat AirAsia QZ8501 dan Sriwijaya Air SJ182 memberikan pelajaran penting bagi penguatan sistem pencarian dan pertolongan / Search and Rescue (SAR) di Indonesia. Pesan tersebut disampaikan Ketua KNKT, Soerjanto Tjahjono, saat menjadi narasumber pada Indonesia International Search and Rescue (IISAR) yang berlangsung di Nusantara International Convention Exhibition (NICE) PIK 2, Sabtu, 11 Juli 2026.

IISAR merupakan ajang internasional yang mempertemukan otoritas SAR, regulator, pelaku industri, serta para pemangku kepentingan dari berbagai negara untuk berbagi pengalaman, teknologi, dan praktik terbaik dalam penyelenggaraan operasi pencarian dan pertolongan. Melalui forum ini, para peserta mendiskusikan penguatan kolaborasi lintas negara sekaligus pemanfaatan teknologi terbaru guna meningkatkan efektivitas operasi SAR.

Dalam paparannya yang berjudul "Lessons from AirAsia QZ8501 & Sriwijaya SJ182", Soerjanto membandingkan proses investigasi dan operasi pencarian pada dua kecelakaan penerbangan tersebut. Ia menjelaskan bahwa meskipun kedua peristiwa memiliki karakteristik yang berbeda, keduanya menunjukkan pentingnya koordinasi sejak fase awal penanganan, kecepatan memperoleh data penerbangan, serta pembagian tugas yang jelas antara KNKT sebagai lembaga investigasi dan Basarnas sebagai pelaksana operasi pencarian dan pertolongan. Materi tersebut juga mengulas pengalaman pencarian kotak hitam, tantangan kondisi laut, hingga durasi operasi SAR pada masing-masing kecelakaan.

Soerjanto menekankan bahwa kualitas informasi yang diperoleh pada jam-jam pertama setelah kecelakaan sangat menentukan keberhasilan operasi di lapangan. Menurutnya, data radar yang belum diproses, data ADS-B, maupun informasi ACARS perlu segera diperoleh untuk mendukung penentuan area pencarian secara lebih akurat, disertai penyelenggaraan joint briefing antara KNKT dan Basarnas sejak awal operasi. "Pelajaran terbesar dari QZ8501 dan SJ182 adalah bahwa kecepatan memperoleh data sangat menentukan arah operasi. Semakin cepat data diperoleh dan dibagikan, semakin besar peluang operasi SAR berjalan secara efektif," ujar Soerjanto.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa kondisi cuaca dan karakteristik medan laut menjadi tantangan utama dalam pencarian korban maupun puing pesawat. Oleh karena itu, penggunaan teknologi seperti multibeam sonar, pemodelan arus dan angin, serta latihan SAR laut dalam secara berkala menjadi bagian penting dalam meningkatkan kesiapan menghadapi kecelakaan penerbangan di perairan. Di samping itu, koordinasi lintas instansi perlu didukung oleh satu posko terpadu, keseragaman komunikasi radio, dan prosedur yang terintegrasi agar seluruh pihak bekerja dengan tujuan yang sama.

Pada bagian akhir presentasinya, Ketua KNKT juga menekankan peningkatan kemampuan Aeronautical Search and Rescue Indonesia, antara lain melalui penyusunan mekanisme kerja yang lebih cepat antara KNKT dan Basarnas, peningkatan dukungan peralatan, pemanfaatan analisis jalur penerbangan secara real-time, serta pelaksanaan latihan gabungan secara rutin yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk maskapai penerbangan. "Semua pelajaran dari dua kecelakaan ini harus berubah menjadi prosedur kerja (SOP)." kata Soerjanto.

Melalui keikutsertaan dalam IISAR 2026, KNKT berharap pengalaman investigasi kecelakaan transportasi di Indonesia dapat menjadi bagian dari pertukaran pengetahuan di tingkat internasional sekaligus mendorong penguatan sinergi antarinstansi dalam mewujudkan operasi pencarian, pertolongan, dan investigasi yang semakin efektif.

Share:

BERITA TERKAIT

Survey