Berita KNKT

TEKAN FATALITAS, KEEFEKTIFAN JALUR PENYELAMAT FO KRETEK MENJADI STANDAR PROSEDUR KESELAMATAN

Admin Portal - Jumat, 10 September 2021
Jumlah Dilihat: 52 kali

JAKARTA – Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) bersama Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN), Korlantas POLRI, Polres Brebes, Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Tengah, Dinas Perhubungan Kabupaten Brebes, Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD) Wliayah X Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta, Aliansi Masyarakat Save Fly Over Kretek, Aptrindo Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakartamengadakan kegiatan diskusi forum lalu lintas dan angkutan jalan terkait Fly Over (FO) Kretek di Orange Cafe Paguyangan pada 25 Agustus 2021.

Saat ini KNKT bahu membahu dengan para pemangku kepentingan lainnya, untuk mengatasi masalah kecelakaan berulang pada beberapa titik lokasi, dimana saat ini terdapat lima titik lokasi yang akan dijadikan role model oleh Bappenas. Satu di antara lima titik lokasi dimaksud yaitu Flyover Kretek di Bumiayu Kabupaten Brebes. Berikut adalah catatan KNKT dengan berdasarkan hasil investigasi dan analisa mengenai apa-apa saja bahaya disana dan hal-hal yang telah pemerintah lakukan.

Pertama, desain FO Kretek itu sudah memenuhi kaidah geometrik, baik terkait dengan lajur pendakian maupun slope turunannya masih dalam batas-batas peraturan geometrik jalan baik regulasi di Indonesia maupun internasional. Adapun yang membuat FO itu berbahaya dan menimbulkan resiko adalah turunannya yang panjang dan sebelumnya jalan pada daerah tersebut memang sudah menurun, sehingga saat dibuat FO ada dibuat menanjak sedikit dan diberi bentang datar diatas jalan kereta api, baru kemudian menurun lagi sesuai dengan topografi jalan disitu dan hal tersebut masih dalam batas-batas geometrik yang dapat diterima.

Namun bagi pengemudi yang baru pertama kali lewat, hal ini bisa menimbulkan salah persepsi dikiranya setelah menanjak dia akan bertemu jalan datar terus ataupun kalau kemudian menurun maka sudut turunannya akan sama dengan lajur pendakiannya, sehingga membuat pengemudi terlena saat melalui bentang datar FO mereka menggunakan gigi tinggi sampai ke turunan. Saat melalui turunan dengan gigi tinggi dan ingin pindah ke gigi rendah hal ini sudah tidak mungkin lagi, sehingga terjadilah brakefading.

Bentuk pendakian dan turunan seperti ini jika tidak diikuti dengan informasi perambuan yang tepat maka dapat berubah menjadi jebakan geometrik (geometric trap), jadi bukan geometriknya yang salah melainkan persepsi pengemudi yang keliru. Oleh sebab itu, untuk menghindari persepsi pengemudi yang keliru tadi FO Kretek sudah dilengkapi dengan berbagai macam informasi yang menuntun pengemudi tentang keadaan jalan menurun panjang didepannya dan apa yang harus dilakukan. KNKT melihat, perambuan di FO Kretek sudah sangat lengkap dan informatif.

Selanjutnya, pada awal dibangun memang dari Dinas Perhubungan Kabupaten Brebes berinisiatif membuat jalur penyelamat, namun karena jalur dimaksud dibangun pada posisi yang kurang strategis dan luas tanahnya tidak memadai, sehingga akhirnya kurang efektif. Untuk itu, KNKT merekomendasikan dibuat jalur penyelamat kedua. Pada jalur penyelamat kedua ini BPJN Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta mendesain se-sempurna mungkin pada posisi yang tepat dengan luas lahan yang memadai dan isi jalur penyelamat juga mengalami modifikasi total, mengganti isinya menggunakan kerikil olahan yang sebelumnya adalah pasir yang bisa mengeras jika terkena air hujan.

Jalur penyelamat baru ini terbukti sangat efektif dalam menekan energi kinetik truk yang mengalami rem blong, sehingga semua truk yang mengalami rem blong saat melalui jalan menurun dapat masuk dengan mudah ke jalur penyelamat tanpa mengalami kerusakan yang signifikan.Oleh sebab itu, berulangkali KNKT menyampaikan pada beberapa kegiatan agar jalur penyelamat di FO Kretek ini dapat dijadikan lesson learned dan referensi untuk membangun jalur penyelamat, baik dari lebar, jalan masuk, sudut masuk, slope maupun material isi.

Namun demkian, akhir-akhir ini terdapat dua kecelakaan rem blong lagi dimana pengemudi mengalami rem blong sesudah jalur penyelamat pertama, sehingga untuk itu kedepan BPJN akan membuat jalur penyelamat baru diantara dua jalur penyelamat yang sudah ada guna meminimalisir fatalitas jika terjadi rem blong.

Disampaikan bahwa semua jalan menurun panjang di Indonesia (jumlahnya cukup banyak) itu akan menimbulkan hidden hazard (bahaya yang tersembunyi) yaitu energi potensial yang sangat tinggi yang jika pengemudi mengurangi kecepatan dengan cara mengerem menggunakan rem utama maka akan beresiko terjadi brakefading atau rem blong, hidden hazard ini menjadi geometric trap bagi pengemudi yang tidak memahami cara mengemudi di jalan menurun.

Untuk itu merupakantugas bagi pemerintah untuk menyampaikan edukasi kepada pengemudi, bagaimana menggunakan prosedur mengemudi kendaraan besar di jalan menurun. Ini sangat penting karena sekali lagi semua jalan menurun panjang di Indonesia memiliki hidden hazard yang hanya bisa dihindari jika pengemudi menggunakan prosedur mengemudi yang baik dan benar sesuai teknologi otomotif yang telah dipersiapkan.

Acara diskusi forum lalu lintas dan angkutan jalan kemarin ditutup dengan pemasangan simbolis rambu jalur penyelamat hasil kerjasama patungan antara KNKT, BPJN, Dinas Perhubungan Jawa Tengah, Aptrindo Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta.

Dengan pemasangan rambu diharapkan bisa mengingatkan pengemudi truk untuk menggunakan exhaust brake atau rem bantuan dan gigi rendah.Rambu juga menunjukkan posisi jalur penyelamat jika sudah terjadi gagal pengereman.

GPR KOMINFO