Berita KNKT

KNKT REKOMENDASIKAN TIGA PROGRAM PENANGANAN ATASI DAERAH RAWAN KECELAKAAN

Admin Portal - Senin, 02 Agustus 2021
Jumlah Dilihat: 160 kali

JAKARTA – Memenuhi permintaan investigasi dari Pemerintah Kabupaten Wonosobo serta perwakilan masyarakatnya terkait daerah rawan kecelakaan pada ruas jalan Kretek yang telah menelan korban jiwa tidak sedikit pada lima tahun terakhir, Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) telah melakukan penelitian dan investigasi yang komprehensif pada ruas jalan dimaksud dan menarik beberapa kesimpulan.

Secara topografi, ruas jalan perbatasan Kabupaten Wonosobo dan Kabupaten Temanggung hingga ke pertigaan Kretek merupakan ruas jalan yang sangat beresiko (resiko tinggi) bagi kendaraan besar mengalami kegagalan pengereman akibat brakefading mengingat pada jarak dimaksud memiliki perbedaan ketinggian yang dapat menghasilkan energi potensial yang sangat besar khususnya kendaraan berat.

Sebelumnya KNKT pernah melakukan investigasi di daerah tersebut pada tahun 2020, kecelakaan Bus Sugeng Rahayu yang mengalami kegagalan pengereman dan hasil investigasi menunjukkan terjadinya fenomena brakefading. Data kecelakaan milik KNKT tercatat bahwa 9 kejadian serupa pada 2 tahun terakhir di jalur Kertek Wonosobo. Berdasarkan survei Moving Car Observer yang KNKT lakukan, maka bagian yang paling beresiko secara geometrik pada ruas jalan tersebut adalah pada 3 kilometer terakhir sebelum memasuki pertigaan Kertek dimana hasil survei menunjukkan kendaraan besar akan mengalami peningkatan kecepatan secara signifikan serta penggunaan rem utama secara terus menerus saat melalui daerah tersebut yang dapat memicu terjadinya overheat pada kampas rem.

Saat ini sudah terdapat sebuah jalur penyelamat yang diharapkan dapat “menangkap” kendaraan yang mengalami kegagalan pengereman, namun demikian terdapat masalah teknis pada jalur tersebut sehingga sulit digunakan dan jika digunakan justru berpotensi dapat meningkatkan fatalitas korban sehingga efektivitasnya rendah. Selain hal tersebut diatas, KNKT juga mengidentifikasi kasus lain yakni delineasi jalan yang buruk pada ruas jalan dimaksud sehingga informasi tentang adanya turunan panjang dan jalur penyelamat tidak dapat tersampaikan dengan baik kepada pengguna jalan.

Sehubungan dengan hal-hal tersebut diatas, KNKT memberikan beberapa program rekomendasi untuk mencegah kecelakaan tersebut berulang serta menurunkan fatalitas. Program Mitigasi Segera, agar meningkatkan efektivitas jalur penyelamat yang sudah ada, memperbaiki beton lantai terluar pada benteng Takeshi agar lebih landau, memindahkan/menggeser tiang reklame pada benteng Takeshi agar tidak berada di tengah bantalan ban, menghilangkan median pada pertigaan Kretek dan diganti dengan marka serong pemisah arus lalu lintas.

Program Jangka Pendek (2021 sd 2022), memperbaiki delineasi jalan sepanjang 9 kilometer, menyediakan tempat istirahat (rest area), menyediakan pagar pengaman jalan (guardrail) pada sisi kanan ruas jalan arah Kretek, menyediakan jalur penyelamat kedua dengan lokasi 1 kilometer sebelum pertigaan Kretek dengan desain jalur memperhatikan visibilitas, aksesibilitas serta isi jalur penyelamat agar efektif untuk menurunkan fatalitas korban saat terjadi kegagalan pengereman pada ruas jalan dimaksud (sebagai referensi dapat menggunakan desain jalur penyelamat pada Fly OverKretek Bumiayu Brebes).

Program Jangka Menengah (2022 sd 2025), membangun jalan lingkar untuk mengalihkan kendaraan berat memasuki ruas jalan Kretek dengan memperhatikan beberapa persyaratan yaitu titik pengalihan jalan lingkar harus berada jauh sebelum daerah rawan kecelakaan (3 km terakhir sebelum pertigaan Kretek) atau sebelum jalur penyelamat yang ada saat ini, agar tujuan pengalihan untuk menghilangkan resiko kendaraan berat mengalami brakefading menjadi efektif. Selanjutnya, pada ruas jalan yang baru harus memenuhi diantara 2 persyaratan lainnya berupa kelandaian lebih kecil dibandingkan jalan eksisting, dan/atau memiliki aktivitas samping rendah (daerah perkebunan/persawahan dan sebagainya).

GPR KOMINFO