Berita KNKT

KNKT GELAR SOSIALISASI BERSAMA PELAKU USAHA PERTAMBANGAN

Admin Portal - Senin, 21 Juni 2021
Jumlah Dilihat: 92 kali

JAKARTA – Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) merupakan sebuah lembaga pemerintahan nonstruktural yang independen dan bertanggung jawab kepada publik melalui Menteri Perhubungan dalam melaksanakan tugas dan fungsinya sebagai lembaga investigasi kecelakaan transportasi.

KNKT dibentuk berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 2 Tahun 2012, dimana Komite ini bertanggung jawab untuk melakukan investigasi atas kecelakaan transportasi baik darat, laut maupun udara, serta memberikan usulan-usulan perbaikan agar kecelakaan yang sama tidak lagi terjadi pada masa mendatang. Sebagai Komite Nasional yang menangani keselamatan, KNKT juga berhak memberikan penilaian kepada perusahaan baik maskapai penerbangan, angkutan darat, kereta api, dan angkutan laut.

Terdapat empat bagian Sub Komite KNKT yang dimana masing-masing Sub Komite mempunyai tugas dan fungsi yang berbeda-beda, seperti pada Sub Komite Pelayaran yang telah diatur sesuai Undang-Undang nomor 17 tahun 2008 tentang Pelayaran, pasal 256 dan 257 dimana dalam peraturan tersebut, KNKT wajib melakukan investigasi kecelakaan kapal baik berupa kapal tenggelam, terbakar, tubrukan maupun kandas yang mengkibatkan adanya korban jiwa, kerusakan atau tidak dapat beroperasi kapal atau terjadi pencemaran dan kerusakan lingkungan maritim.

Dalam 10 tahun terakhir, KNKT mencatat terdapat 8 (delapan) dari kejadian kecelakaan pelayaran kapal pengangkut Muatan Curah Padat. Tercatat 6 (enam) kapal yang muatannya berasal dari Indonesia. Kecelakaan kapal muatan curah padat yang terakhir adalah tenggelamnya kapal MV. Nur Allya pada tanggal 21 Agustus 2019 di Perairan Laut Halmahera, Maluku Utara. Kasus ini sangat menonjol karena kapal tenggelam saat berlayar dengan Nickel Ore dari Pelabuhan Muat Sagea-Halmahera Tengah, Maluku Utara menuju Pelabuhan Morosi, Sulawesi Tenggara. Kecelakaan ini menjadi sorotan internasional karena sumber muatan yang bersifat spesifik.

Berdasarkan data terakhir MV. Nur Allya diawaki oleh 25 awak kapal serta 2 orang pengikut dengan membawa muatan nickel ore sebanyak 51.500 WMT. KNKT menyimpulkan bahwa MV. Nur Allya diyakini tenggelam pada kedalaman 530 meter dengan titik koordinat 01o13’3,28” LS dan 128o35’4,96” BT. Kecelakaan ini diakibatkan karena terjadinya likuifaksi muatan nickel ore akibatkadar air dari muatan (Moisture Conten - MC) pada nickle ore yang melebihi batas kadar air yang diizinkan dalam pengangkutan (Transportable Moisture Limit - TML) serta terjadinya hujan saat

pemuatan. Kapal kehilangan stabilitas akibat terjadinya free surface dari muatannya dan selanjutnya kapal terbalik dan tenggelam.

Sehubungan dengan kejadian tersebut, KNKT perlu membuat suatu terobosan adanya sosialisasi lebih intensif kepada pelaku usaha pertambangan tentang resiko muatan nickel ore atau bahan tambang Group A, berupa tata cara pemuatan nickel ore yang aman ke atas kapal. Mengingat terdapat lebih dari 850 perusahaan penambang nikel berada di Indonesia dan sebanyak lebih dari 200 perusahaan tambang nikel berada di Sulawesi Tenggara.

Dalam rangka pelaksanaan program kerja KNKT Tahun Anggaran 2021, maka KNKT akan menyelenggrakan kegiatan Accident Review Forum (ARF) dengan tema “Keselamatan Pelayaran Pada Kapal Penggankut Muatan Curah Padat (Nickel Ore)” yang akan dilaksanakan pada tanggal 16 Juni 2021 bertempat di Hotel Claro, Kendari, Sulawesi Tenggara. Adapun pembicara (narasumber) pada kegiatan tersebut berasal dari instansi KNKT, Direktorat Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai (KPLP) Kementerian Perhubungan, Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Sulawesi Tenggara, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Station Maritim Kendari dan Operator perusahan pelayaran.

GPR KOMINFO