Berita KNKT

JALUR PENYELAMAT BUKAN TEMPAT PARKIR MOBIL UMUM

- Kamis, 28 Mei 2020
Jumlah Dilihat: 217 kali

JAKARTA – Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) telah melaksanakan monitoring dan evaluasi keselamatan transportasi angkutan lebaran tahun 2020 pada bulan Februari lalu, di mana hal tersebut merupakan bagian fungsi Sistem Manajemen Keselamatan (SMK) dalam transportasi untuk mengenali dan menemukan hazard yang selanjutnya dilakukan mitigasi serta monitoring oleh bagian safety pada semua stakeholder. Selain itu, pada tanggal 31 Maret 2020 KNKT juga melaksanakan tinjauan lokasi kecelakaan beruntun kendaraan truk gandeng dengan beberapa kendaraan bermotor yang berlokasi di Flyover Kretek Bumiayu Kabupaten Brebes.

Berdasarkan hasil investigasi ditemukan bahwa terdapat beberapa jalur penyelamat yang sudah tidak terawat di jalan nasional maupun ruas jalan tol. Pada saat terjadinya kecelakaan beruntun di Flyover Kretek, jalur penyelamat justru dipergunakan sebagai tempat parkir sehingga kendaraan mengalami kegagalan pengereman tidak bisa masuk ke jalur penyelamat, padahal hal ini sebelumnya sudah menjadi temuan KNKT saat kegiatan monitoring dan evaluasi yang juga telah disampaikan pada acara Accident Review Forum tepatnya tanggal 5 Maret 2020 di Cirebon.

Selanjutnya, terdapat temuan lain yang signifikan dengan standar keselamatan di jalan seperti proses evakuasi kendaraan yang masuk ke jalur penyelamat terlalu lama (lebih dari 24 jam) yang seharunya tidak lebih dari 4 jam dan tidak dibebankan kepada kendaraan yang mengalami kecelakaan melainkan dilaksanakan oleh pembina jalan atau pengelola jalan tol, selain itu seharusnya keberadaan rambu peringatan untuk menggunakan gigi rendah atau menurunkan kecepatan dipasang sebelum kendaraan memasuki jalan menurun bukan pada saat jalan menurun.

Berdasarkan temuan-temuan atau hazard tersebut, maka KNKT merekomendasikan penanganan Low Cost Improvement yaitu menginventarisir jalur penyelamat yang ada di jalan nasional dan jalan tol serta melakukan beberapa perbaikan seperti Surface (permukaan), penggantian isi jalur penyelamat dengan kerikil olahan; Visibilitas, pemasangan reflector pada bahu jalur penyelamat, penempatan tulisan “JALUR PENYELAMAT” dengan latar belakang hijau dan memiliki sifat reflektif; Pengaman, penempatan ban bekas pada ujung pendakian; Penempatan RPPJ yang cukup besar dan dipasang 100 meter sebelum jalur penyelamat sehingga mudah dibaca oleh pengemudi dan memberi waktu yang cukup bagi pengemudi untuk mengarahkan kendaraan ke jalur penyelamat; Penempatan rambu peringatan akan adanya turunan panjang dan segera memindahkan ke gigi rendah yang dipasang 50 meter sebelum turunan, baik pada ruas jalan tol maupun jalan nasional yang merupakan jalur rawan kecelakaan seperti Emen, FO Kretek, Lembang, dan lain sebagainya; Membuat banner atau papan himbauan kepada masyarakat pada lokasi jalur penyelamat untuk tidak parkir pada areal jalur penyelamat, disamping tetap memberi sangsi yang tegas bagi pelanggarnya

GPR KOMINFO