Berita KNKT

FAKTOR BERBAHAYA TRANSPORTASI DALAM PENGANGKUTAN CBRN

Admin Portal - Jumat, 11 Maret 2022
Jumlah Dilihat: 376 kali

JAKARTA – Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), Soerjanto Tjahjono sebagai Keynote Speaker pada Workshop ODC US Embassy terkait Strategic Level Chemical, Biological, Radiological, Nuclear (CBRN) yang yang digelar oleh Kementerian Pertahanandan US Defense Threat Reduction Agency (DTRA) di Sari Pacific Hotel Jakarta pada 22 Februari 2022.

Perkembangan dan pemanfaatan ilmu pengetahuan serta teknologi di bidang CBRN semakin pesat, namun berpotensi menimbulkan bahaya dan dapat disalahgunakan yang berdampak terhadap manusia dan lingkungan. Sehubungan dengan tingkat resiko yang sangat tinggi terhadap manusia dan lingkungan ini, maka perlu diadakannya peningkatan kemampuan di bidang manajemen resiko CBRN.

“Dengan CBRN kita merasakan manfaat pupuk untuk tanaman, obat-obatan untuk keperluan medis, cairan pembersih untuk keperluan rumah tangga, hingga nuklir untuk keperluan energi dan industri. Namun demikian, CBRN memiliki bahaya (hazard) yang unik. Bahaya ini berbeda dengan substansi yang biasanya sering kita temui dalam aktivitas sehari-hari. Resiko dapat timbul ketika bahaya tidak tertangani sesuai rencana. Rantai perjalanan suatu zat yang termasuk kategori CBRN adalah salah satu contoh bahaya”, tutur Soerjanto dalam paparannya.

Proses transportasi turut melibatkan banyak faktor yang menimbulkan bahaya. Beberapa faktor yang terkadang muncul ketika kecelakaan pengangkutan CBRN dapat berupa kebocoran, kesalahan penanganan, pencampuran zat berbahaya, kendaraan terbalik atau terguling, dan pengemasan yang tidak benar.

Soerjanto mengingatkan agar hal ini perlu menjadi perhatian serius dan hati-hati “CBRN tidak dapat kita anggap sepele dengan meganggapnya sebatas zat-zat yang digunakan dalam bom kimia atau bom biologi, karena faktanya substansi kimia, biologi, atau nuklir yang ada dalam kehidupan sehari-hari yang kerap kita gunakan pun juga bisa menjadi bahaya. Bahkan, ketika terjadi kecelakaan, kesalahan penanganan juga bisa memicu bahaya yang lebih besar”, himbaunya.

Sasaran yang akan dicapai dalam kegiatan ini adalah meningkatnya pengetahuan dan pemahaman tentangbahaya CBRNdengan merumuskan kebijakan tentang

penanggulangan dampak bahaya CBRN, sekaligus menetapkan langkah-langkah yang perlu dilakukan untuk meminimalisir korban jiwa dan pemangku kepentingan di Indonesia dapat menyikapinya secara cepat, tepat, dan efektif.

Dibutuhkan penyiapan strategi yang sederhana bagi penanganan korban CBRN yang harus dipahami oleh seluruh pihak terkait dengan skenario yang jelas dan pelatihan serta simulasi penanganan bahaya CBRN yang dilakukan sesering mungkin, serta dibutuhkan upaya sistematis dan progresif yang berkelanjutan untuk membangun kolaborasi internasional di masa mendatang dalam penanganan ancaman CBRN.

Diharapkan workshop ini dapat bermanfaat, membawa dampak besar berupa ilmu yang berharga bagi semua pihak tentang ancaman bahaya yang disebabkan oleh dampak paparan CBRN, dapat sama-sama menyatukan pola fikir, pola sikap dan pola tindak dalam menangkal, mencegah, menanggulangi dan menangani masalah kesehatan yang ditimbulkannya, demi menjaga Kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Selain itu, diharapkan melalui adanya kerja sama yang baik dengan pemerintah Amerika Serikat akan menghasilkan penguatan hubungan antara Indonesia dan Amerika Serikat di masa mendatang.

GPR KOMINFO