Berita KNKT

DESAK KNKT: ASPEK KESELAMATAN ADALAH ASPEK UTAMA YANG WAJIB DIPERHATIKAN

Admin Portal - Selasa, 21 Juni 2022
Jumlah Dilihat: 66 kali

BALI – Terjadi kasus kecelakaan tabrakan beruntun sekitar pukul 11.15 WITA di jalur Denpasar-Singaraja, Banjar Pacung, Desa Baturiti, Tabanan pada hari Sabtu, 18 Juni 2022. Satu unit bus pariwisata dengan nomor polisi B 7134 WGA yang mengangkut rombongan pelajar dari Surabaya, Jawa Timur, menabrak belasan kendaraan mobil dan motor hingga mengakibatkan satu korban jiwa dan delapan orang luka-luka.

Tidak hanya itu, kejadian kecelakaan ini juga berdampak pada proses pemulihan sektor perekonomian dan pariwisata khususnya di Bali. Mengingat setelah 2 tahun lamanya seluruh aktifitas pariwisata mengalami kelumpuhan dikarenakan pandemi Covid-19. Dalam hal ini aspek keselamatan pada setiap aktifitas perjalanan wisata baik sarana maupun prasarana yang menunjang menjadi aspek terpenting yang harus diperhatikan.

Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) merespon kejadian ini dengan segera menurunkan investigator moda Lalu Lintas dan Angkutan Jalan untuk melakukan investigasi terkait kecelakaan tersebut pada hari dan tanggal yang sama saat terjadinya kecelakaan. Melihat kasus ini, Soerjanto Tjahjono selaku ketua KNKT mengusulkan beberapa langkah strategis yang ditujukan khususnya kepada pengemudi bus di Bali baik bus reguler maupun bus parawisata diwajibkan mengambil sertifikasi kompetensi Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) untuk wilayah Bali.

Seperti yang tertuang pada Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia Nomor 269 Tahun 2014 tentang Penetapan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia Kategori Transportasi dan Pergudangan Golongan Pokok Angkutan Darat dan Angkutan Melalui Saluran Pipa Bidang Mengemudi Kendaraan Bermotor.

“Standar kompetensi ini merupakan kompetensi yang harus dimiliki oleh pengemudi baik angkutan barang maupun penumpang dan merupakan bagian penting dalam upaya menjamin keselamatan transportasi dan keselamatan kerja serta terpenuhinya pelayanan minimal yang ditetapkan pemerintah kota,” jelas Soerjanto.

Selanjutnya kepada Dinas Perhubungan agar dapat melakukan pemeriksaan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang wajib dipenuhi setiap armada sebelum mengangkut penumpang (Ramp Check) ke garasi bus untuk memastikan kelaikan bus dan sertifikasi

pengemudi, serta melakukan Hazard Identification and Risk Assessment (HIRA) untuk mengidentifikasi potensi bahaya dengan mendefinisikan karakteristik hazard atau bahaya yang mungkin terjadi.

KNKT juga menekankan kepada para operator bus yang dalam kasus ini diperuntukkan khususnya bus pariwisata agar diwajibkan secara ketat memantau jam kerja beserta waktu istirahat setiap pengemudi, bahwa berdasarkan hasil investigasi yang kerapkali KNKT lakukan faktor manusia berupa fatigue atau kelelahan akibat jam kerja yang berlebihan.dan kurangnya waktu istirahat menjadi penyebab kecelakaan yang mendominasi. Di samping jam kerja dan waktu istirahat maka para operator harus memastikan kualitas istirahat pengemudinya.

Besar harapan KNKT dengan telah diusulkannya beberapa langkah strategis ini agar segera ditindaklanjuti demi membangkitkan kembali sektor perekonomian dan pariwisata, meningkatkan jumlah wisatawan, serta terwujudnya perjalanan wisata yang berkeselamatan, dan meminimalisir terjadinya kecelakaan dengan penyebab yang sama di kemudian hari.

GPR KOMINFO